Fictionary

LDR (Losing and Disconnecting Relationship)

Malam ini (atau siang ini) adalah waktu yang pas untuk kita kembali “bertemu”. Butuh kesabaran agar kita dapat menentukan waktu untuk “bertemu” lewat video call. Perbedaan waktu 12 jam tentu membuat waktu kita saling terbalik. Aku malam, kau siang. Aku siang, kau malam. Aku tidur, kau bangun. Aku bangun, kau tidur.

Ini bulan ke-5 kita menjadi demikian. Aku seperti mulai letih. Ah, tidak boleh. Aku yang menyemangatimu agar bisa berangkat melanjutkan sekolah, apapun risikonya. Kau pernah tanya aku, apa kita akan baik-baik saja? Aku dengan mantap jiwa bilang kita akan baik-baik saja. Tak boleh aku membuatmu khawatir saat ini. Ini demi kebahagiaanmu juga. Yang berarti kebahagiaanku juga (?).

Ternyata begini rasanya dapat melihat, mendengar tapi tak dapat menyentuh secara utuh. Sebut aku kuno, kolot, atau ribet, tapi memang aku sedih sekarang ketika tak dapat menjangkau wajahmu. Ingin sekali memegang tanganmu yang nyata, bukan hanya gambar bergerak. Aku rindu. Titik.

Tapi sekali lagi aku tak ingin kau khawatir. Aku mau kau tahu kalau aku baik-baik saja, walaupun tidak. Aku ingin kau fokus pada kuliahmu, agar mampu memuaskan keinginanmu untuk belajar lagi. Aku ingin kau bahagia. Itu saja. Bisa. Jangan khawatirkan aku. Aku akan bertahan. Aku mampu menjalani ini. Aku mau bersamamuuuuu!!!!!

Tidak. Aku tidak kuat ternyata. Kau adalah matahariku. Kini matahariku seperti tertutup awan mendung. Tidak utuh. Aku ingin kita bertemu. Kau ke sini atau aku ke sana. Sekali saja, agar rinduku tidak terus menggebu-gebu. Mataku ingin menatap matamu. Tanganku, ingin menggenggam tanganmu. Aku ingin memelukmu. Aku ingin… Ingin kau! Malam ini (atau siang ini) akan kukatakan padamu.

Hei, bagaimana kabarmu?

Akuu…. baik. Lelah sih, banyak tugas, tapi aku suka. Kau bagaimana?

Sama, senang juga kok. Sudah 5 bulan kita begini. Aku mulai terbiasa, rindu tapi syukurlah ada teknologi video call ini…

Aku mulai merasa…… kita akan bisa melewati ini bersama. 🙂

Iya.

Eh, temanku mengajak makan siang. Aku makan siang dulu juga ya. Lapar tadi tidak sempat sarapan.

Baiklaah. Jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik menantimu di sini.

Syukurlah kalau kau baik-baik. Aku pergi dulu ya. Daagh

Daaagh.

Terjadilah, mengatakan aku tidak baik hanya jadi angan.

Gambar diambil dari gambar dari munafsiq.blogspot.com

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s