Fictionary

I think I am in love

Pria pada wanita (1)

Ini mungkin akan terdengar murahan atau malah menjijikan. Tapi aku tetap ingin mengatakan ini. Kuharap kau bersedia membacanya.

Kau ingat kita pertama kali bertemu? Iya, kita bercanda ria di depan perpustakaan ketika itu, pelarian dari tumpukan tugas. Aku masih biasa saja denganmu ketika itu. Namun, sejak itu kita sering sekelompok tugas lagi. Beberapa kali lah. Dan makin sering berinteraksi, bahkan kadang kita mengobrol di depan kosanmu sampai jam 12 (atau jam 1) pagi, seakan besok kiamat hingga tak perlu bangun pagi untuk ke kampus. 

Aku menganggap kau sahabatku. Kita sering berbeda pendapat, tapi kau dapat menerima itu. Akupun. Ya persahabatan lawan jenis memang rentan disisipi rasa baru bernama cinta ya. Aku rasa, aku juga demikian. Aku rasa, aku sayang kau lebih dari sahabat. Kau tau yang kumaksud. Nah, tapi aku tak tahu, apa kau merasa yang sama. Itu paling penting.

Sudah sih. Itu saja yang ingin kuungkapkan. Cheesy ya? Aku hanya ingin kau tahu itu sekarang, sebelum nanti aku tak bisa lagi ungkapkan. Walau kau sekarang sedang jauh, tanpa tahu kapan dekat lagi.

Wanita pada pria (1)

Kau gila! Menyatakan ini ketika aku sudah pergi. Kenapa bukan saat aku ada? Ini butuh lebih dari sekedar surat pendek untuk kita bahas. Kau selalu menggampangkan perkara. Ini yang membuat kau diomeli dosen juga kan? 

Mengenai urusan rasa, ini sulit bagiku untuk menentukan, apa aku juga suka padamu atau tidak. Entah kenapa di saat bersamaan, aku ingin juga kau ada selalu, tapi aku juga ingin kita berjarak agar aman. Iya, kalau kita bersahabat, mungkin nanti bisa kita langsung nikah? Daripada pacaran tapi malah renggang bila putus. Bagaimana menurutmu? Tuh kan, aku harus menunggu jawaban suratmu. Ini sungguh tak efektif.

Pria pada wanita (2)

Maaf baru bisa balas, aku dapat tugas tambahan agar bisa lulus, jadi aku baru sempat membalas. Kau benar, aku gila. Aku juga merasa seakan jadi pengecut. Setiap hari kita bersama tapi setelah kau pergi baru kuungkapkan. Bodoh ya aku? 

Soal kita sahabatan saja. Dan nikah?? Wow. Kau sudah berpikir sejauh itu bahkan. Aku ingin kita menjajaki dulu agar tahu seperti apa kita saat sebagai pencinta. Akankah kita cocok? Kalau iya, kita lanjutkan. Kalau tidak, ya kita kembali jadi sahabat. Menurutku seperti itu. 

Kau sudah merasakan salju di sana?

Wanita pada pria (2)

Kau tahu aku seperti apa. Aku tahu kau seperti apa. Aku sudah memutuskan soal ini. Singkat saja ya. 

Aku tidak mau jadi kekasihmu. Aku mau kau jadi sahabatku. Tidak perlu ada yang berubah dari kita saat ini. Entah nanti.

Kuharap kau bisa menerima keputusanku. Ini bukan hal mudah, tapi aku punya keyakinan itu yang terbaik bagi kita saat ini. Ya, bro? Bisa yaa. Maafkan aku kalau kau kecewa.

Salju belum keluar di sini. Mungkin 2-3 minggu lagi. Nanti kufoto dan kirim padamu bila sudah ada. 🙂

Wanita pada pria (3)

Hampir 1 tahun tidak ada surat balasan. Apa kau marah padaku? Maafkan aku. 

Bagaimana kabarmu?

Wanita pada pria (4)

Setahun tiga bulan tanpa kabar. Kau kemana? Sibuk sekali kah?

gambar diambil dari pexels.com

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s