Think Out Loud

Menunggu Jemputan

Padaku, hidup tak selalu menjadi teman yang menyenangkan. Hidup kadang usil padaku. Dihajarnya aku. Bisa apa aku kalau sedang dihajarnya? Paling mengeluh sampai bosan dan akhirnya bersyukur. Lucu memang.

Oh, hidup juga itu suatu sekolah tanpa jadwal. Yang pasti aku selalu belajar darinya. 

Pada suatu hari, hidup mengajariku agar tidak memandang dan membandingkan orang lain. Siapapun itu. Mereka ya mereka, aku ya aku. Ujiannya beda, kecepatannya beda, kelambatannya juga beda. Tak perlulah dibandingkan. Cukup diam dan fokus menghadapi hidup sendiri sambil berpikir guna hidup untuk orang lain.

Analogi yang dibukakan bagiku, hidup ideal itu layaknya jemputan sekolah. Semua dijemput satu persatu, sesuai keinginan pengemudi. Ada yang lebih dahulu, ada yang belakangan. Namun, akhirnya semua akan sampai ke sekolahnya masing-masing. Ada juga yang setelah sampai sekolah ternyata bolos dulu. Itu pilihan saja, tapi terlihat kalau kita tak perlulah membandingkan orang ini sudah begini sudah begitu. Pada waktunya, kita akan dijemput. Itu hidup.

Ah, meracau saja kau ni. Habiskan dulu itu Badak! 

Advertisements

What do you think? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s