Latest Entries
Fictionary

(Tak Hanya) Diam

Kata orang, berbicara itu sulit. Buatku, itu bukan hanya kiasan, karena aku tuna wicara sejak lahir. Bukan tak ingin bicara, tapi memang aku tidak diijinkan untuk bicara sampe saat ini. Maaf bila bertemu aku dan aku hanya diam saja, bukan maksud sombong, tapi memang tak mampu.  Hidup tanpa bicara ini unik rasanya. Aku dapat mendengar … Continue reading

Fictionary

Bui

Dinding lagi. Dinding lagi. Tahanan teler habis memakai narkoba lagi. Itu lagi. Semua mata memandang, ya itu saja yang terlihat. Bosan juga lama-lama. Oh, bukan bosan. Muak mungkin lebih tepat. Siapa yang tak muak kalau begini terus berbulan-bulan. Masih ada 60 bulan lagi seperti ini – kalau masih hidup. Kalau diingat sekitar 60 bulan yang … Continue reading

Fictionary / Reflection

Namaku

Sakti Matahari. Itu nama pemberian ayah dan ibuku sejak baru lahir. Mereka mengharap aku jadi kuat untuk selalu memberikan energi bagi sekitarku. Kata orang, nama itu doa. Harapan. Namanya juga harapan, selalu akan terbaik. Aku juga ingin memenuhi harapan mereka. Kalau mampu. Kini aku hanya jadi pekerja kantoran biasa. Gajiku juga tak seberapa. Jangankan untuk … Continue reading

Fictionary

{Jangan Seling ku}

Berbincang. Tertawa. Menggoda. Itu yang sedang kita perbuat bukan? Hanya itu kan? Matamu begitu hidup dan tawamu begitu riang. Aku asik menikmati ceritamu yang kau bumbui gimic-gimic sesuai dengan emosi yang terjadi di ceritamu. Kita tertawa bersama hingga rahang kita sama-sama lelah. Kini giliranku bercerita. Aku sungguh mau bercerita padamu, hanya saja aku…. datar. Tapi … Continue reading

Fictionary

Menjadi Bapak

Ayahku pergi pada suatu hari. Ia bilang… Ah, dia tidak bilang apa-apa. Hanya pergi ketika aku sedang asik bermain mobil-mobilan. Dia menyalakan mobil (betulan), lalu langsung pergi. Kupikir dia hanya pergi sesaat. Ternyata lama. Hingga kini. Dari aku 4 tahun, hingga 27 tahun. Lama sekali.  Kejadian itu jadi begitu penting bagiku. Aku tak pernah menjumpanya … Continue reading

Fictionary / Reflection

Hei Kau Manusia!

​Manusia sering kali merasa hidupnya begitu berat. Penuh tekanan katanya. Andai bisa terbang bebas bagai burung. Menurut mereka, jadi burung di udara lebih enak. Manusia. Mereka berpikir hanya dengan cara mereka berpikir, mentang-mentang punya akal budi. Seakan-akan hidup mereka sudah paling berat. Makhluk lain lebih mudah hidupnya. Oh, kadang mereka juga membandingkan dengan sesama mereka. … Continue reading